Bunda, pernahkah kita membayangkan bagaimana orang tua atau kakek-nenek kita dulu bisa menghidupi keluarga besar dengan satu gaji? Kenyataannya, zaman sudah berubah. Kini, banyak keluarga yang merasa keberatan jika hanya mengandalkan satu pencari nafkah. Berbagai kebutuhan hidup terus meningkat, sementara pendapatan terasa stagnan.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di berbagai belahan dunia. Para pakar ekonomi pun angkat bicara. Mereka menyebutkan bahwa era keemasan di mana satu penghasilan bisa membeli rumah, mobil, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah berlalu.
Biaya Hidup yang Terus Merangkak Naik
Salah satu biang kerok utama adalah inflasi. Harga-harga kebutuhan pokok, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan naik terus setiap tahunnya. Kenaikan ini jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji. Akibatnya, satu gaji yang tadinya terasa cukup, sekarang cepat habis untuk memenuhi kebutuhan dasar saja.
Mark Hamrick, analis ekonomi senior di Bankrate, menyebut ini sebagai tantangan keterjangkauan. Sementara itu, Elise Gould dari Economic Policy Institute menambahkan bahwa banyak keluarga terpaksa bekerja lebih keras hanya untuk mengejar ketertinggalan akibat kenaikan biaya.
Rumah dan Sewa yang Kian Mahal
Bicara soal tempat tinggal, ini masalah besar. Pasokan rumah yang terbatas membuat harga rumah dan sewa melonjak tinggi. Bagi keluarga dengan satu pencari nafkah, cicilan rumah atau biaya sewa bisa menyedot porsi terbesar dari pendapatan bulanan. Sisanya, untuk makan, transportasi, dan kebutuhan lain, jadi semakin menipis.
Dulu, mungkin ada masa di mana pasangan muda bisa membeli rumah dengan satu gaji. Tapi sekarang, itu seperti mimpi di siang bolong. Banyak pasangan harus menabung lebih lama atau mencari penghasilan tambahan untuk bisa memiliki rumah sendiri.
Biaya Kesehatan dan Pendidikan yang Membebani
Kesehatan dan pendidikan adalah dua sektor yang biayanya terus meroket. Premi asuransi kesehatan untuk keluarga saja naik lebih dari 25 persen sejak 2020, jauh melebihi inflasi. Begitu juga dengan biaya penitipan anak dan biaya kuliah yang naik lebih dari 5 persen per tahun.
Kalau semua biaya ini harus ditanggung dari satu gaji, tekanannya sangat berat, apalagi jika memiliki lebih dari satu anak. Keluarga jadi harus berpikir keras untuk menabung demi masa depan anak-anak, sementara kebutuhan hari ini saja sudah berat.
Dunia Kerja yang Semakin Tidak Pasti
Dulu, bekerja di satu perusahaan bisa diandalkan sampai pensiun. Sekarang, jaminan itu sudah jarang. Banyak perusahaan mengurangi tunjangan, jam kerja tidak menentu, dan kontrak kerja semakin fleksibel. Banyak pekerja yang beralih ke gig economy, yang menawarkan fleksibilitas tapi pendapatan tidak menentu.
Dengan kondisi seperti ini, mengandalkan satu sumber pendapatan saja menjadi berisiko. Kalau si pencari nafkah utama kehilangan pekerjaan atau penghasilannya menurun, keluarga langsung goyah.
Persiapan Pensiun yang Menjadi Tanggung Jawab Sendiri
Dulu, banyak perusahaan menyediakan dana pensiun untuk karyawannya. Sekarang, program seperti itu semakin langka. Karyawan dituntut untuk menyisihkan sebagian gajinya untuk tabungan pensiun sendiri. Ini tentu menjadi beban tambahan.
Bagi keluarga dengan satu penghasilan, menyisihkan uang untuk pensiun setelah memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah tantangan tersendiri. Seringkali, mereka harus mengorbankan kebutuhan lain demi menabung untuk masa tua.
Keluarga dengan satu pencari nafkah memang semakin sulit bertahan di tengah tekanan ekonomi yang ada. Namun, dengan perencanaan keuangan yang matang dan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, kita tetap bisa melewatinya. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda!